Monday, May 10, 2010

Father's Talk: Bon Voyage

Oleh: Omettokun

Menjadi suami bukanlah perkara yang mudah. Alasannya adalah pria, khususnya saya, adalah makhluk publik yang sulit terikat dan diikat. Sedangkan menikah adalah suatu ikatan yang mengikat pria di kawasan domestik. Ketika seorang pria lajang berubah status dari bujang ke menikah maka ia terikat oleh jalinan ikatan rumah tangga, terikat oleh ikatan tali pernikahan, terikat oleh tanggung jawab untuk menafkahi, serta tanggung jawab-tanggung jawab lainnya sebagai kepala keluarga. Hasilnya, jika dahulu bekerja sebagai gaya hidup setelah kebutuhan, namun setelah menikah pekerjaan adalah sebenar-benarnya suatu kebutuhan untuk menunjang berbagai tanggung jawab yang diusung sebagai suami. Hasilnya hidup menjadi terasa monoton. Mungkin karena hal-hal itulah sebagian orang, khususnya pria, memilih untuk berkarir dahulu dan tetap menjomlo walaupun sudah cukup dewasa atau umur untuk berumah tangga. Nantilah urusan rumah tangga bisa menyusul kemudian yang penting karir harus kokoh, atau berumah tangga nanti jika telah memiliki rumah sendiri, dan ‘nanti-nanti’ lainnya.

Setelah menjadi suami kemudian beranjak menjadi ayah setelah anak-anak lahir. Dengan kata lain, tanggung jawab pun bertambah terutama sekali dalam hal nafkah. Pada tahap inilah biasanya berbagai permasalahan itu muncul, mulai dari masalah sepele hingga masalah yang bersifat prinsipil. Bukan hanya itu saja, kesabaran pun turut diuji karena gejolak emosi yang ikut andil di sana. Misalnya,keadaan rumah berantakan setiap pulang kerja padahal setelah berjibaku dengan penat dan lelah yang dibayangkan adalah rumah yang rapi, kamar yang bersih, dan secangkir teh hangat, namun pada kenyataannya rumah berantakan si kakak rewel minta ini-itu yang nggak jelas apa yang dia mau, si adik sibuk mainin makananya hingga bercereran di mana-mana, mainanan berhamburan di setiap penjuru kamar, istri yang layu karena kelelahan, kecantikan yang dulu selalu menjadi bintang kejora seolah terhapus sudah. Inilah yang mungkin dikatakan orang dengan kehidupan yang sebenarnya. Pada saat memasuki gerbang pernikahan berarti memasuki gerbang kehidupan nyata.

Mengapa pada saat masuk ke dalam dunia rumah tangga dikatakan memasuki dunia nyata? Mengapa ada istilah itu? Berdasarkan pengalaman dan hasil pengamatan, mungkin di dalam dunia itulah kita merasakan pahit getirnya kehidupan, tanggung jawab seorang manusia, dituntut mandiri, namun juga merasakan apa yang disebut dengan sandaran hidup, kehangatan teman batin, dan juga mencintai dan dicintai secara altruistic yang dibangun atas ketulusan bukan emosi, sehingga tak lekang oleh waktu. Inilah yang disebut dengan kehidupan nyata yang menyatakan kenyataan hidup bahwa aku adalah seorang suami, yang tak dapat dipungkiri masih belajar menjadi seorang ayah untuk putri-putriku, dan semoga menjadi suami yang baik bagi istriku meskipun bukan yang terbaik.

Pada kenyataannya itulah yang sebenarnya. Tidak mungkin mengulang waktu karena hasilnya belum tentu beda. Apa yang dilakoni hari ini adalah satu hal yang pasti, hasil dari ikhtiar dan keputusan-keputusan di masa lalu. Haruskah di sesali? Bukan, namun untuk disyukuri karena yang harus terjadi – terjadilah. Menerima kenyataan bukan berarti suatu bentuk penyerahan diri, namun menikmatinya sebagai rasa syukur atas hidup ini, dengan kata lain mencintai apa yang dimiliki saat ini – menjadi seorang ayah dan suami. Seperti halnya kita berada di atas sampan di tengah arus sungai yang deras, bukan terhanyut melainkan berlabuh mengarungi sungai dan menikmati pemandangan di sekitarnya, jika pun ada arus deras, batu terjal, meliuk, menikung, bahkan air terjun itu semua hanyalah bagian dari perjalanan sungai ini. So, why don’t just sit back and enjoy the ride. Bon voyage!!!

Monday, April 5, 2010

Mengenang Kisah Manager “Biting”

Oleh: Udi Sukrama
Semalam, ketika Badri sedang asyik menonton OVJ (Opera van Java), tiba-tiba perutnya berbunyi “kruuukkk….Kruuukkk”, laksana jam bekker mengumandangkan jam makan. Untungnya, jam bekker perut ini seperti gayung bersambut dengan suara penjual sate yang lewat di depan rumah, ”Tee…Satee..Teee…Satee”. Lansung saja Badri menghampiri tukang sate dan memesan seporsi sate+lontongnya.
Tidak lama kermudian tukang sate pun datang sambil membawa seporti sate + lontong dengan bungkusan berupa daun yang disematkan sepotong lidi. Badri pun membayar seporsi sate itu dan berucap, “terima kasih, Mas”.
Sambil menonton OVJ, tidak terasa seporsi sate habis dilahapnya. Akan tetapi, terasa ada yang menyangkut di giginya, yaitu secuil serat daging ayam menyangkut di gigi depannya. Langsung saja ia memanfaatkan potongan “biting” (lidi) yang telah disematkan di daun pisang pembukung sate sebagai alat mencungkil sisa makanan yang ada di giginya. (Bitting dalam bahasa Sunda (”Penulis masih mencari arti atau istilah yg sebenarnya”) adalah sepotong lidi yang disematkan untuk membentuk sebuah wadah yang terbuat dari daun pisang. Meskipun biting ini peranannya besar dalam membentuk sebuah wadah, tetapi hanya sekedar menempel.)
Akan tetapi, ketika mengambil biting penyemat daun itu, Badri jadi teringat perkataan mantan atasannya dahulu ketika aku masih bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang moulding plastic. Perusahaan yang memiliki sekitar 200-an karyawan yang sebagian besar adalah wanita. Saat itu, kondisi perusahaan di mana tempatnya bekerja mengalami beberapa masalah intern. Salah satunya masalah memalukan, namun fatal terhadap kelangsungan hidup karyawan yang mengalaminya.
Kisah ini dimulai dari permasalahan intern, di mana diketahui salah seorang direktur perusahaan tersebut bernama Bpk. Piko suka menjadi penganggu wanita (staf kantor ataupun orerator). Padahal sang direktur ini konon telah memiliki 4 orang istri (satu istri sah secara agama dan pemerintah, satu istri sah Cuma secara agama, dan 2 istri lainnya sebagai selir semata). Memang rayuan sang direktur ini sangat maut apabila mendekati wanita incarannya, dengan iming-iming diberikan sebidang tanah, kolam, rumah, dan kendaraan pribadi maka dia dapat memperoleh wanita incarannya. Mungkin bagi staf (wanita) yang memiliki keinginan bertambahnya pendapatan atau memiliki rumah pribadi dapat dipenuhi keinginannya oleh sang direktur tersebut asalkan mau menemaninya melakukan hubungan “ehem-ehem” atau menjadi selirnya. Akan tetapi, bagi wanita yang tidak menyukai tingkah polahnya malah merasa jijik dan mengundurkan diri dari perusahaan tersebut.
Hal ini pun terjadi pada rekan Badri, sebut saja namanya “Norma”. Norma sering “curhat” setiap sang direktur menelepon dengan manja dan nada yang memancing gairah. Terkadang Norma pun mengeluh kepada Badri, setelah datang dan memberikan laporan berupa data hasil produksi harian kepada sang direktur. Pasalnya, ia sering dirayu dengan kata-kata manja dan diiming-imingi sejumlah harta benda asal ia mau menuruti keinginannya. Singkat cerita, memuncak pula kekesalan Norma akibat ulah sang direktur sehingga ia melayangkan surat pengunduran diri.
Mengetahui bahwa Norma mengundurkan diri, Badri kemudian menghadap kepada atasannya Bapak Aman, seorang manager yang berwenang di bidang PPIC. Kemudian, Badri menceritakan semua kejadian yang menimpa norma hingga ia mengundurkan diri. Pak Aman tertegun sambil memijat-mijat dahinya, lalu ia berkata; “Pak Badri, kejadian ini bukan hanya sekali ini. Hal ini pun pernah terjadi kepada beberapa orang wanita yang terlihat cantik dan menarik hatinya,” kata sang manager.
“Oh…Bapak sudah tahu ya, tapi kok tidak disarankan untuk menghentikan aksinya, Pak,” dengan sedikit emosi Badri berbicara kepada atasannya.
“Ya, mungkin Bapak tahulah sejauh mana hak saya berbicara terhadap Bpk direktur,” Kata bapak menager mencoba sedikit berwibawa.
“Tapi Pak…..Apakah hal ini akan dipetieskan permasalahannya, sementara sudah banyak karyawan wanita yang menjadi korbannya lalu mengundurkan diri,” kata Badri dengan menahan emosi.
“Pak, saya sadar dan tahu benar kalau hal ini menganggu produktivitas kerja, tapi saya sadar juga siapa saya ini,” kata sang manager.
“Bapak khan manager kami, jadi wajar kalau kami meminta perlindungan ,” kata Badri.
“Pak…saya itu cuma manager ‘biting’, saya hanya menempel dirangkaian jenjang managemen. Saya hanya memiliki tugas yang besar, tetapi tidak dilihat peranannya. Dalam artian, saya hanya melaksanakan tugas saja, tidak memiliki peranan politik apapun, “ kata manager yang terkesan curhat itu.
Mengetahui hal ini aku menyudahi pembicaraan dan berpamitan kepada sang manager. Kemudian, dua hari aku setelah Norma mengundurkan diri, timbullah isu bahwa Badri “ada main” dengan Norma sehingga ia mengundurkan diri. Badri pun ingin klarifikasi isu tersebut kepada Bapak Aman, namun ternyata sang manager dipindah tugaskan tadi paginya ke suatu daerah. Akhirnya, Badri tidak tahan atas isu tersebut dan mengundurkan diri dari perusahaan bersama 37 orang karyawan lainnya yang mengetahui permasalahan tersebut.
Seiring kalimat penutup OVJ yang diucapkan Dalang Parto,”DI SANA GUNUNG DI SINI GUNUNG, DI TENGAH-TENGAHNYA PULAU JAWA, DALANGNYA BINGUNG WAYANGNYA JUGA BINGUNG, YANG PENTING BISA KERTAWA”. Ya……, Badri bisa tertawa dan tersenyum mengenang kisah istilah ” Manager Biting”. yang dipegangnya untuk mencungkil sisa serat sate yang terselip di gignyai.

(Sisa-sisa memori 2000 di Perusahaan Moulding Plastik, semoga tidak terulang lagi…………….)
Mohon maaf jika kisah ini mirip atau serupa dengan kisah Anda, namun ini hanya kisah nyata yang sayang untuk dibuang apalagi dilupakan. Sekali lagi, mohon Maaf sebesar-besarnya…..

Silaturahmi & Ibu Muda dari Negeri Sakura

Oleh: Udi Sukrama
Apa kabar? How do you do?
Kalimat singkat sapaanku kepada seorang teman di acara silaturahmi di sebuah gedung mewah di bilangan kota Jakarta. Temanku itu bernama Meina yang sengaja datang dari negeri Sakura. Menurut kabar, ia telah sukses urban menjadi seorang editor di negeri tersebut. Kemudian, ia langsung menjabat tanganku dengan erat dan berkata seperti apa yang kuucapkan. Selanjutnya, ia mengajakku untuk duduk ke sebuah meja yang jauh dari hiruk pikuk musik dalam acara tersebut.
Meina mecoba menjelajahi pendapatku tentang makna silaturahmi. Aku tahu, ia sedikit kecewa dan bosan akan acara seperti ini. Kemudian, aku bertanya mengapa ia terlihat kecewa. Akan tetapi, sebelum menjawab, ia memberikan beberapa pertanyaan kepadaku.
“Menurutmu, apakah acara silaturahmi seperti ini membuat ikatan hati dan kebersamaan?” tanya Meina kepadaku.
“Coba kamu lihat di sana masih seperti dahulu, berkelompok-kelompok dan saling pamer kebendaan!” kata Meina.
“Ya, mungkin itu makna silaturahmi yang mereka pahami,” jawabku singkat.
Selanjutnya, Meina pun berkata: “Silaturahmi bukan hanya sekedar makan-makan, apalagi mempertunjukkan kebendaan. Itu sih gaya lama, gaya Oom atau tante-tante di tahun 70-an. Silaturahmi merupakan pertalian atau benang merah keterbukaan pikiran dan kepekaan hati.Keterbukaan pikiran membuat kita dapat berbaur dan belajar dari orang lain. Kepekaan hati membuat kita peduli terhadap teman, sahabat, dan kerabat serta serta menjalin persaudaraan. Itulah targetan yang dicapai dari makna silaturahmi,” jelasnya.
Hmmm….sambil manggut-manggut, bilik pemikiranku mulai terbuka akan pola pikir yang ia utarakan. Kemudian, kami mengajak beberapa teman berbincang-bincang tentang memberi bantuan kepada teman-teman se-almamater yang terkena musibah di Padang hingga membuat kerja sama wirausaha.
Beberapa bulan setelah acara itupun, aku dan teman-teman masih saling berhubungan melalui telepon maupun melalui situs jejaring sosial, termasuk dengan Ibu muda yang bekerja di Osaka itu.
Oh…Indahnya silaturahmi! Terima kasih atas pelajaran yang telah kau utarakan, wahai ibu muda dari negeri Sakura. Meskipun engkau telah berkolaburasi dengan budaya Jepang, tetapi masih tetap membumikan budaya silaturahmi ala Indonesia. Ibu Meina . . . . salam untuk keluarga di sana.


(Sekedar cerita nyata yang boleh dibagikan dan perlu keritikan)

Aku Masih Beruntung

Oleh: Udi Sukrama

Ketika istirahat kantor, aku sengaja nongkrong di sebuah warung rokok di pinggiran jalan. Di sana, aku langsung memesan kopi dan sebungkus rokok. Meskipun aku tahu, perutku yang lapar ini tidak akan berhenti bernyanyi hanya dengan segelas kopi dan beberapa batang rokok, tetapi permasalahan keluarga, pekerjaan, dan keinginan lain sanggup mengerem rasa laparku.

Sewaktu kuteguk kopi, tak sadar ternyata di sebelahku duduk seorang lelaki tua renta memandangiku yang sedang meneguk kopi. Bibirnya dikulum-kulum seolah-olah merasakan kopi yang kuteguk tadi. Mengetahui hal ini langsung saja aku memesan dan menawarkan segelas kopi dan sebatang rokok kepada kakek itu. Orang tua itu mengucapkan beberapa kali kata terima kasih dan mendoakan agar aku selalu sehat dan sukses. Kemudian, ia bangkit dari duduknya dan menuju sebuah kotak berkaca dan dilengkapi sebuah pikulan. Oh….ternyata orang tua ini penjual Bandros (istilah Bandung=kue pancong istilah Jakarta). Dia membawa empat potong kue bandros kepadaku sebagai ungkapan terima kasih. Saat itu aku berpikir untuk membelinya dan akhirnya aku membeli kue Badros itu. Saat itu, berlinanglah air mata lelaki renta itu. Ia lalu mengucapkan terima kasih dan menceritakan bahwa kue yang dijajakannya baru seorang pembelinya. Kemudian, ia pun mengatakan perjalanan untuk menjajakan kue ini dari rumahnya sekitar 2 kilometer. Sementara keuntungan dari hasil penjualannya jika habis terjual sekitar Rp 12 ribu rupiah. Selanjutnya, ia pun bercerita bahwa dua orang anaknya telah pergi mendahuluinya, kini tinggal ia dan istrinya. Jadi, hanya dialah salah satu tulang punggung untuk mencari nafkah.

Aku terenyuh mendengar kisahnya itu, seorang tua renta yang berjuang mencari keuntungan beberapa dari hasil menjual kue bandrosnya itu menafkahi keluarganya menempuh perjalanan 2 kilometer. Meskipun demikian, ia tetap tegar dan dijalaninya dengan sabar.

Hmmm….kisahnya ini sungguh menjadi kekuatan bagiku untuk menjalani hidup karena permasalahanku ternyata tidak sebanding dengan permasalahan hidup yang dialami kakek tua itu. Akan tetapi, hal mendasar yang perlu digarisbawahi adalah mencari uang Rp 12 ribu rupiah sangat berarti untuk kebutuhan hidup keluarganya harus diperjuangkan dengan menempuh jarak yang jauh, itupun jika kuenya habis terjual. Oh…ternyata aku masih sangat beruntung jika dibanding kan dengan kakek itu.

Sunday, May 27, 2007

galeri puisi

Mesin Waktu

matt

Menyibak malam menembus kelam

Beranjak pendaran memburu risau angan

Membedah mimpi menantang ragu

Walau tak pasti kutembus waktu

Kini mimpiku sejati dalam asa

Kupastikan diri, ini nyata

Kupinang dia dara kesuma

Yang kupandang bisu di bingkai kata

Segeralah memuai nyata

Si puan yangs etia sepenuh jiwa

Waktu tak pernah mau menunggu

Beranjak berlalu penuh lugu

Aku terpekur di sudut asaku

Menatap mimpi khianati kalbu

Kesumaku adalah kerawai malamku

Asaku kering, mimpiku layu, si puan kurindu

Masa memang tak henti putaran

Menggerus mimpi bersama kumandang adzan

Membawa pendaran sadarkan angan

Bahwa puanku sebenarnya kesuma

Punya cinta … bukan taksa…

Namun rekahnya … tak lagi kujumpa ….

Bandung, 25 Januari 2007

kamar cerpen

Rahasia dalam Puisi

By. Sun

Septi bicaralah!”

Dia hanya terdiam, sambil menyodorkan secarik kertas. Kemudian aku membacanya.

Aku seperti serpihan kaca yang tak nampak

Duduk termenung dalam dunia gelap

Aku hanya berteman angin sepoi yang dingin

Aku tak melihat bintang atau kunang-kunang

Aku hanya menyimpannya dalam ranting yang patah

Ku simpan ranting itu dalam pohon yang layu…

Entahlah aku tidak mengerti apa maksud temanku Septi, dia menjadi diam mengurung dirinya, sudah seminggu tidak mau bicara dengan siapapun. Bahkan makan pun tidak mau, dia seperti kehilangan nyawa. Mungkin hal ini karena kematian Erik kekasihnya yang mati mendadak.

“Maaf Bu, aku tidak bisa bicara dengan Septi. Dia hanya memberikan aku secarik kertas berisi puisi yang tidak jelas maksudnya.”

“Tolonglah Nak Yuli, bantu Septi kembali seperti semula, dia sangat trauma. Dia satu-satunya saksi kematian Erik kekasihnya. Mungkin di dalam puisi itu terdapat banyak rahasia.”

“Ya, mungkin aku bisa mencoba menyelidiki masalah ini.”

Aku mulai masuk ke kamar Septi lagi. Aku melihat Septi sangat lemas, dia menatapku dengan tajam. Dia tetap terduduk di meja belajar memegang pulpen dan memegang beberapa helai kertas. Aku tidak menyangka gadis periang sepertinya yang cerdas dan penuh semangat akan tampak tidak berdaya karena kehilangan kekasih yang dicintainya. Banyak psikiater yang yang mundur karena kebisuannya. Dia baru mau komunikasi dengan tulisan, itupun karena aku sahabatnya. Septi adalah seorang penulis skenario yang handal dalam berbagai pertunjukkan teater di kampus. Polisi juga tidak bisa mengajukan dia sebagai saksi di pengadilan karena mentalnya terganggu.

“Septi, bolehkah aku bicara denganmu?”

Lagi-lagi dia menyodorkan secarik kertas kepadaku. Aku baca kembali isi kertas tersebut.

Siang itu dunia menyapaku

Mengajakku terbang ke Singgasana Pradana

Di sana, di tempat itu, aku bersamanya

Sariku hilang bersama angan-angan

Kami hempaskan semua luka hati

Di sana pula tanda cerita ini berakhir

Ya Allah…aku mulai bingung, apa maksud sarinya hilang, melepaskan luka hati. Tanda apa? Apakah artinya tanda atau bukti kematian Erik. Ya, mungkin jawabannya adalah puisi-puisi ini. Septi memang hebat cerpenis yang handal. Meskipun jiwanya terguncang, tetapi dia tetap berkomunikasi dengan puisi. Kasus ini cukup rumit karena kasus pembunuhan Erik mengundang banyak pertanyaan. Erik adalah putra dari seorang pejabat, dia mati dalam keadaan sangat mengerikan. Tubuhnya terpotong-potong, sehingga pihak keluarga ingin kasus ini selesai dengan tuntas.

Septi menyodorkan kertas dan sebuah foto. Foto ini adalah foto kami berlima, yaitu Aku, Septi, Erik, Risa dan Erwin. Apa maksudnya? Apakah di antara mereka adalah salah satu pembunuhnya? Aku mulai pusing…Septi muntah-muntah, dia menjerit histeris dan pingsan. Akhirnya, aku buka tulisan dalam kertas itu.

Di sini terdapat banyak penghianatan

Ku kira dia Malaikat

Ternyata pisau berkarat

Ku kira dia bintang

Ternyata dia lebih dari binatang

Ku kira persahabatan akan suci

Ternyata tragedi…

Aku mulai tidak sanggup lagi menghadapi Septi, aku ingin cepat pulang dan keluar dari kamar itu, tapi aku melihat sebuah kertas tergeletak di bawah sudut kamar. Aku cukup tertarik untuk membacanya, aku ambil kertas itu dan membacanya.

Aku yang telah mengakhiri bintang hatiku

Karena ku tak sanggup melihat dia satu jiwa dengan sahabatku

Si bunga kampus

Aku akhiri nyawa keduanya, sampai berkeping-keping…

Tidak…tidak…kau membunuh mereka, di mana? Di mana? Kau buang mayat Risa…

****

Ingatlah persahabatan adalah investasi yang sangat bijaksana

Harga kehidupan adalah kebersamaan. (Az-Zahid)

Wednesday, February 7, 2007

kamar cerpen

Menikah Dengan Mayat

Oleh: Narti

“Dipukul?” tanya Jejen.

“Ya, aku dipukul rame-rame oleh pemuda desa karena ingin mencoba joged di atas panggung bersama Susi.” Jawab Didi.

“Sampai kapan sih, Di, kamu akan mengejar-ngejar penyanyi dangdut itu? Primadona desa ini, kamu tidak kasihan dengan wajah dan tubuhmu yang penuh dengan memar kalau sudah nonton aksi panggungnya. Pemuda desa ini tentu risih melihat badanmu yang bau, kotor, wajahmu yang hitam pekat dan miskin, kita hanya anak yatim piatu yang keseharian kita hanya bisa mengambil rumput untuk dombanya Pak Kartim.”

“Ya, aku tahu itu. Kamu tidak perlu mengingatkan aku terus-menerus, aku sangat mencintai Susi. Sampai kapanpun, walaupun sampai keriput, aku sangat tergila-gila padanya. Setiap pagi aku akan terus memanjat pohon mangga depan rumahnya Pak Kartim, agar aku bisa melihat Susi berjalan pergi kuliah dari kejauhan.”

“Kasihan kamu, Di, adikku yang malang…mencintai seorang gadis yang tidak akan pernah dimiliki. Susi dan kamu bagaikan langit dan bumi yang begitu jauh perbandingannya.” Dalam hati Jejen yang begitu teriris.

Setiap Pagi Didi mengambil rumput untuk makanan dombanya Pak Kartim, yang telah baik hati membolehkan kakak-beradik ini untuk tinggal di rumahnya. Pak Kartim merasa kasihan dengan kedua pemuda ini yang tidak punya tempat tinggal, hatinya tersentuh melihat kedua pemuda itu sedang tidur di kandang domba miliknya karena tempat tinggal mereka runtuh terkena angin yang cukup keras dua bulan yang lalu.

*****

“Ingin sekali aku mendekati Susi jantung hatiku, namun ketika aku mancoba mendekatinya Susi lari menjauh. Giliran aku kebetulan berpapasan dengannya di jalan dan tersenyum kepadanya, orang-orang malah mentertawakan aku dan mengolok-olok bahwa aku adalah orang yang tidak punya malu.” Hati Didi terenyuh ketika memikirkan peristiwa itu.

“Sudahlah jangan melamun terus! Minggu depan kita akan pergi ke Yogya, Pak Kartim menitipkan kita kepada saudaranya agar kita bisa kerja di sebuah rumah sakit. Entahlah kita kerja apa di sana, kalau nggak jadi tukang kebersihan paling juga jadi penjaga kamar mayat.” Ucap Jejen yang spontan.

“Apa? Pergi ke Yogya, aku tak mau. Apalagi kerja di sana, aku nggak bisa melihat Susi di sana. Aku bisa mati karena rindu." teriak Didi.

“Dasar Gila, kamu mesti waras! Kita tidak bisa hidup seperti ini terus. Aku akan pergi sendiri mencari hidup yang lebih baik dari sekarang, di sini aku hanya melihat kamu dimaki, diludahi orang-orang, terlebih jika melihat kamu setiap hari membawa cincin tembaga yang kau buat sendiri dari logam uang seratus, dan kau mau berikan kepada Susi. Sadar, Di, sadar! Aku mohon!" Jejen pun tersungkur menahan tangis.

Akhirnya, Didi ikut Jejen ke Yogya dan meninggalkan desa yang telah banyak memberikan kenangan buruk. Benar saja ketika mereka datang di rumah sakit di yogya, ternyata mereka di tempatkan menjadi penjaga kamar mayat rumah sakit tersebut. Menjadi penjaga kamar mayat menjadi tempat yang biasa bagi Didi dua bulan ini tanpa melihat Susi pujaanya, memikirkan nasib yang dilaluinya. Hari-harinya dia habiskan bersama-sama dengan mayat dan menahan kerinduan yang mendalam. Dia tidak seberuntung kakaknya yang dipindah tugas menjadi sopir ambulance.

Keheningan malam, suara angin yang sepoi-sepoi dan suara burung hantu yang berteriak di atas pohon nangka dekat kamar mayat memecah nuansa malam. Didi sedikit terusik dengan keadaan itu, lalu ia mencoba berdiri dari kursi tempat duduknya dan melihat jam dinding yang bergantung di atas tembok. “Sudah jam 1.00.” Bisik Didi.

“Ada apa yah? Apakah di kamar ini ada mayat baru. Saya jadi tidak enak perasaan dan gelisah seperti ini.” dia bertanya kepada dirinya sendiri. Lalu dia mencoba masuk ke kamar dengan penuh kehati-hatian. Dia membuka satu persatu mayat yang ada dan membaca papan identitasnya. “Onda 56 tahun, Paijo 67 tahun, Mirah 77 tahun…Susi Ardini 26 tahun.” Dia tersentak melihat mayat yang dilihatnya terakhir. Hatinya perih tapi penuh haru, seperti mimpi, dan halilintar yang menerjang langsung di kepala.

“Susi, kenapa kamu jadi begini pujaanku? Jadi kau artis yang konser tadi siang di pendopo dan terjatuh karena lemparan botol dari penonton…oh tidak.” Didi memeluk mayat Susi. “Tapi Susi aku senang kau begini, aku bisa memandang wajahmu yang cantik, , mengelus rambutmu yang panjang dan… mencium bibirmu yang seksi, sayang.” Dia memandang mayat itu dengan penuh gairah.

Dibukanya sedikit demi sedikit kain penutup tubuh mayat itu, meskipun sudah tidak bernyawa Susi masih tampak cantik, seperti sedang tertidur pulas. Lalu dia mengambil sebuah cincin tembaga dari saku celananya yang selalu dia bawa kemana-mana. “Aku nikahi kau Susi Ardini binti Ridwan dengan maskawin cincin tembaga ini dibayar tunai, dan bertindak menjadi saksi adalah semua mayat yang ada di sini.” Ijab Didi sembari memasukkan cincin itu ke jari manis Susi.

“Aku akan membawanya pergi, aku tidak peduli walau besok keluarganya akan mengambil jenazah ini. Susi sudah menjadi istriku sekarang, kami akan menikmati malam yang indah ini selayaknya pengantin baru.” Tegas Didi dihatinya.

Lalu dia mengangkat mayat itu dengan perlahan dan menghampiri kakaknya yang sedang berada duduk di dalam ambulance yang tidak jauh dari tempat kamar mayat. “Mayat siapa yang kamu bawa Didi? Tanya jejen tampak terkejut setengah mati. “Aku membawa jenazah Susi, aku sudah menikahinya dan akan membawanya pergi. Izinkan aku pergi kak! Dan kau pinjamkan aku mobil itu untuk aku pakai bersamanya. Kumohon kak! Demi aku, kebahagiaanku dan sayangmu padaku! Pinta Didi kepada kakaknya.

“Aku tidak mau, kau sudah gila. Kembalikan mayat itu ke tempat semula, Di! Pinta Jejen. “Aku tidak mau melepaskan tubuh Susi cintaku, ini adalah kesempatan untukku, ini adalah mimpiku, aku mohon kak!Didi pun bersujud di depan kakaknya.

Jejen pun tidak sanggup melihat keadaan adiknya. “Ini adalah keinginanmu, keinginan yang gila, kau harus siap dengan segala tindakanmu yang tidak wajar, kau lebih memilih cintamu yang gila dibandingkan pekerjaan dan kehidupan manusia normal pada umumnya. Pergilah! Bawalah mobil ini, hati-hati kau baru belajar nyetir! Hujan mulai tampak turun dan malam begitu gelap.” Jejen menahan tangis

*****

Jejen terdiam, di selasar rumah sakit. Dia memikirkan tindakan adiknya dua hari yang lalu, akibat tindakan adiknya pihak rumah sakit dituntut pihak keluarga Susi karena telah menghilangkan jenazah anak mereka.

Dia mengambil sebuah koran lokal yang tersimpan persis di meja depan selasar rumah sakit. Diapun membaca halaman paling depan. Kedaulatan rakyat (5/5) sebuah ambulance jatuh ke dalam jurang pada dini hari (2.15) sopir ambulance mati seketika bersama pasien di dalam ambulance…

THE END

Kehendak dan rencana yang tertunda adalah hutang yang perlahan-lahan akan membunuh diri sendiri. (Al-Zahid)

Banyak yang tidak akan pernah menjamin kebahagiaan sepenuhnya hanya satu saja ialah amanah. (Al-Zahid)

Thursday, December 21, 2006

galeri puisi

Does Love Exist?


Does Love Exist?

Ketika seorang ibu merelakan nyawa.

Menghantarkan buah hatinya.

Menghirup wanginya kehidupan.

Tanpa sedikit pun keraguan.


Does Love Exist?

Ketika seorang ibu menyenandungkan jiwa.

Menidurkan impiannya.

Bersama redupnya kehangatan.

Tanpa sedikit pun keresahan.


Does Love Exist?

Ketika seorang ibu menyambut pagi.

Merapikan dunianya.

Di saat bulan enggan pergi.

Tanpa sedikit pun keluhan.


Does Love Exist?

Ketika seorang ibu menatap matahari.

Merayap pergi di kala senja

Dengan meninggalkan kehangatan.

Tanpa sedikit pun penyesalan.

By

The sweetest angel on the earth

kamar cerpen

Bolero

By: N’no Hangwee

Aku hanya bisa terduduk lemas di samping Bunda yang terbaring dan penuh luka… bukan hanya luka tapi aku tahu persis, dia tak mungkin bisa pulih seperti semula. Aku lelah setelah berteriak-teriak, merebut obat dari suster dan akhirnya aku harus berebut dengan pasien lain. Aku benar-benar tidak percaya hari ini benar-benar terjadi dalam hidupku. Aku berharap ini hanya mimpi… tapi aku tidak bisa memutar waktu kembali. Andai waktu dapat kuputar kembali mungkin aku tidak akan menunda perjalanan kami ke Jakarta untuk menengok kakakku yang baru saja melahirkan. Kulihat kondisi kesehatan Bunda sedang tidak fit, lagi pula kakakku masih berada di rumah sakit, aku tidak tega jika harus membawa Bunda keluar masuk rumah sakit… Bunda tidak suka bau rumah sakit, karena Bunda pernah dirawat begitu lama dengan menahan sakit, stress menghadapi amputasi yang harus dijalaninya. Aku yang memutuskan semuanya. Aku putuskan menunda sampai hari minggu. Dan siang ini rencananya aku ingin membawa Bunda ke dokter. Tapi Bunda justru terbaring di halaman rumah sakit di bawah terik matahari.

Sabtu, 27 Mei 2006 Pagi

Pagi-pagi sekali aku sudah bangun. Aku menyiapkan air panas untuk Bunda mandi. Sambil menunggu Bunda selesai mandi, aku merapikan rumah. Maklum kami tidak punya pembantu, hanya mbak Marni, suster Bunda yang selalu mengurus Bunda dari pagi sampai sore selama hari. Catering selalu datang sebelum setengah tujuh pagi.

Selesai mandi, Bunda duduk di ruang tengah. Di ruang tengah kami terdapat taman, tempat anggrek-anggrek Bunda tumbuh, kolam yang berisi dua ekor ikan koi, dan juga air mancur yang aku buat sesuai keinginan Bunda. Aku masuk ke kamar setelah melihat Bunda mulai asyik membaca koran. Selesia mandi aku mengenakan celana Capri dan tank top dengan bolero biru kesayanganku yang dipilihkan Bunda untukku saat kami ke Bandung. Seperti biasa, setiap pagi aku berdoa. Selain mengucap syukur aku juga selalu memohon kesembuhan Bunda. Aku tidak ingin masa tuanya dilewatkan hanya dengan pergi ke dokter dan rutin minum obat.

Di saat aku berdoa, aku merasakan kepalaku sedikit pusing, badanku seperti melayang. Saat aku membuka mata bersama itu pula lukisan di dinding kamar jatuh, foto-foto, dan buku-buku berjatuhan…. Rumah kami seperti bergoyang ke kiri dan ke kanan. Aku baru menyadari ini gempa. Dan bukan gempa biasa! Aku mendengar Bunda berteriak-teriak memanggilku…

“Nita…! Nita…! Gempa! Nitaaa!”

Aku semakin panik.. aku berusaha membuka pintu kamar tapi tidak bisa, padahal aku tidak menguncinya… aku melihat sekeliling. Berantakan! Dan sudut-sudut dinding kamarku retak.

“Bun… Nita nggak bisa keluar!”

“Mbak Dewi!” aku memanggil kakak iparku, tapi tidak ada jawaban.

“Nitaaa!” Kudengar suara Bunda makin parau dan ketakutan. Aku semakin panik. Aku angkat kursi dan kudobrak pintu sampai akhirnya terbuka. Aku segera berlari ke arah Bunda yang sedang mencoba berjalan merayap ke dinding dengan tertatih… Aku tidak menyangka di luar kamar lebih berantakan. Eternit sebagian runtuh. Bunda menuju pintu samping melalui dapur… aku segera berlari ke arahnya.

“Bunda!” Bunda tidak menoleh dia terus berjalan berpegang dinding rumah. Saat Bunda melewati pintu samping, braakkkkk! Terdengar suara benda jatuh dengan keras.

“Bundaaaa! Aku segera melompat.

Tapi terlambat, kulihat Bunda sudah tergeletak dan potongan bagian depan atap teras samping telah menimpa badannya. Kudengar orang-orang berlarian menuju ke arah jalan raya. Rupanya para tetangga yang berdiri di jalan dan melihat Bunda tertimpa atap menjerit dan meneriaki kami agar segera pergi. Bagaimana kami bisa pergi sedangkan Bunda tertindih atap dan mereka tidak mau datang menolong! Aku langsung mengangkat bagian atap itu dari atas tubuh bunda. Dan aku segera mengangkat Bunda menuju ke jalan. Tempat orang-orang yang sedang berlari kearah kami, seolah ingin memberi pertolongan. Kenapa pertolongan selalu datang terlambat? Ke mana mereka tadi? Kakak dan kakak iparku kulihat telah berjejer di antara orang-orang itu bersama anak-anak mereka. Keterlaluan! Mereka tahu Bunda masih berada di dalam tetapi kenapa tidak berusaha membawa bunda?? Mas Anton kakakku berusaha meraih Bunda dari tanganku.

“Sini Ta!”

“Buat apa?! tidak usah! Percuma! Kau puas sekarang lihat Bunda begini! Kamu tahu Bunda masih di dalam kenapa malah menyelamatkan diri kamu sendiri?” AKu berkata sambil menangis keras. Bunda pingsan dalam gendonganku. Pak Benny meraih Bunda dari tanganku.

“Aku panik Nit, aku bener-bener nggak ingat!”

“Tidak usah alasan! Dari tadi Bunda berteriak-teriak, nggak mungkin kamu nggak denger!”

“Sudahlah, tidak ada gunanya saling menyalahkan, sekarang bagaimana kalau kita bawa Ibu Tuti ke rumah sakit,” kata Bu Niken.

“Braaakkkk!” Suara-suara itu terus terdengar seperti bersahut-sahutan…satu-demi satu rumah roboh. Gempa telah reda.

Aku merasakan kakiku sakit. Ternyata kakiku berdarah karena tertusuk paku dari eternit yang berserakan.

Baru aku sadari tidak hanya bundaku yang terluka, tetapi Melza anak kecil yang bioasa kugoda itu kepalanya berdarah dan pipinya lecet-lecet. Ibunya memeluknya sambil menangis. Perih sekali kelihatannya. Aku hanya menatapnya sambil menahan isak tangis. Perasaan marah, ketakutan, penyesalan, bercampur jadi satu. Saat itu terlihat orang-orang datang sambil membopong beberapa tubuh.

Ternyata orang-orang yang ditolong tersebut sudah meninggal. Mereka kost di Mawar II/no. 7. Mereka sedang tidur pulas saat terjadi gempa. Tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan.

Akhirnya kami membawa Bunda ke rumah sakit Bethesda. Di sana telah banyak sekali pasien yang dirawat. Kami tidak bisa masuk, justru pasien-pasien berhamburan keluar dari dalam rumah sakit. Berdasar informasi kondisi rumah sakit pun mengkhawatirkan, mereka takut tertimpa bangunan jika gempa kembali datang. Semua wajah terlihat sangat ketakutan. Tidak ada yang bisa ternyum sedikitpun. Semua orang membayangkan hal yang terburuk yang akan terjadi. Aku pun merasa kejadian ini tidak berhenti sampai di sini.

Aku membersihkan luka Bunda dengan boleroku. Setiap kali aku memakai bolero ini Bunda selalu tersenyum lebih manis dibanding biasanya. Bunda bilang aku cantik.

Saat para perawat datang, kami meneriaki mereka. Aku mengejar seorang suster,

“Suster, tolong Ibu saya sus, dia pingsan!”

“Maaf, mbak, di sini pasien kami sangat banyak. Tapi mbak jangan khawatir nanti pasti Ibu mbak dapat giliran dirawat. Kami sedang mendahulukan korban yang kritis dan luka berat.”

Aku terus mengikuti langkah suster itu.

“Tapi sus, Ibu saya juga terluka parah, dia tertimpa atap rumah, sus…” aku menangis keras.

“Iya, mbak sabar aja.”

Mendengar kata-kata suster dadaku sesak. Aku harus sabar?

“Bunda saya sudah tua mbak! Saya takut ada tulangnya yang patah.”

Tapi suster itu sudah tidak menghiraukan aku lagi. Dia sibuk menolong salah satu pasien yang sangat mengenaskan. Mata kirinya berdarah dan lebam. Daging bagian lengan kiri atas menganga. Daging yang tersobek terlihat jelas. Telinganya pun mengeluarkan darah kental dan pekat. Tubuhku terasa gemetar. Aku nyaris menjerit melihatnya. Seorang laki-laki menangis seperti anak kecil di sampingnya. Aku ingin sekali bertanya kenapa bisa sampai begitu? Tetapi kubatalkan. Seorang Ibu datang dan menangis memeluk lelaki itu.

“Kamu harus ikhlas, ya nak? Ferry sudah pergi!” kata ibu itu.

Tangis lelaki itu semakin keras. Dia segera merebahkan kepalanya dekat kepala istrinya itu. “Ma, Ferry udah ninggalin kita, Ma! Kamu jangan tinggalin aku! Aku sama siapa, Ma?! Ferry Ma… Ferry…! Kita nggak jadi nganterin dia masuk TK, Ma! Dia nggak jadi sekolah Ma!” lelaki itu terus menangis sambil berteriak-teriak memanggil nama Ferry. Ibu itu memeluknya dari belakang.

Aku tidak kuat mendengar tangisan mereka. Aku baru sadar sejak tadi aku berdiri di sini seperti tersihir.

Aku segera kembali ke tempat Bunda terbaring beralas kasur yang diambil Mas Anton dari dalam rumah sakit. Pasien semakin banyak dan terus berdatangan. Ada Ibu yang sedang hamil dan mengalami pendaharan. Saat aku mendekat ke arah Bunda melintas di depan kami beberapa orang membawa korban dengan kepala hampir putus. Aku tidak tahan melihat ini semua. Aku memeluk kakak iparku. Aku tidak mengerti dengan semua ini. Kami seperti ada di alam lain, bukan di Yogya yang damai.

Aku menutup dahi Bunda dengan boleroku. Hari semakin siang, perawat itu belum juga menghampiri kami dan merawat bunda. Kepalaku pusing mendengar banyak jeritan kesakitan di sana-sini.

Aku coba menghubungi dokter bunda. Tapi dia sedang berada di Semarang. Aku putus asa. Ketika ada seorang perawat yang lewat, aku meminta supaya Bunda didahulukan, tapi dia tidak bersedia karena harus merawat pasien yang luka berat. Seorang keluarga pasien lainnya ikut memohon. Aku merebut obat-obatan itu darinya. Plester, perban, rivanol, bethadine aku rebut darinya. Tapi Ibu disebelahku merebut dan mengambil bethadine dan perban, kami saling berebut. Perawat itu akhirnya kembali masuk ke dalam rumah sakit.

Kami mengobati bunda. Aku membersihkan luka lecetnya. Paha kanan Bunda lebam. Mas Anton pun bercerita saat dia mengambil kasur dan selimut dari dalam rumah sakit, dia berebut dengan seorang Ibu, tentu saja Mas Anton yang menang. Memang disaat seperti ini rasanya semua orang menjadi egois. Kami semua korban, dan kami ingin tertolong. Aku pun membersihkan luka bekas paku yang menusuk telapak kakiku.

Sabtu, 27 Mei 2006 Sore

Aku melihat Bunda sudah terlihat lebih baik. Bunda tidak merintih lagi. Lukanya sudah aku bersihkan. Akhirnya kami semua saling membantu, tentu saja pasien dengan luka ringan. Bahkan aku dan Ibu yang berebut obat denganku pun saling menolong.

Sabtu, 27 Mei 2006, Malam

Tersiar kabar bahwa akan terjadi lagi gempa susulan malam ini. Kami semua bersiap. Malam ini Bunda mendapat giliran dirawat setelah berkali-kali aku memohon. Menurut perawat itu, kaki kanan Bunda patah. Aku merasa terpukul walau telah menduga sebelumnya. Aku menangis dan meminta maaf pada Bunda. Aku merasa bersalah atas semua yang terjadi. Bunda hanya tersenyum dan mengusap rambutku. Kami semua bermaaf-maafan.

Aku membetulkan bolero yang menutup dahi dan telinga Bunda supaya tidak dingin. Ternyata gempa yang kami khawatirkan tidak terjadi, hanya gempa-gempa kecil.

Minggu, 28 Mei 2006, Pagi

Semalam, kami semua tidak tidur. Selain karena rintihan dan jeritan pasien masih terdengar, kami juga khawatir terjadi gempa dahsyat lagi. Semua takut terjadi tsunami, aku pun sempat merasa khawatir. Aku mencari minuman hangat. Aku membawakan teh manis hangat dan sedotan untuk Bunda.

“Bunda… ini teh hangat, diminum dulu.”

Aku mengarahkan sedotan itu ke bibir bunda. Bunda tersenyum, tangannya meraih tanganku. Dia membisikkan sesuatu. Aku mendekatkan telingaku.

“Hati-hati ya, Nita.”

Tangan Bunda menggenggam erat tanganku. Bunda memejamkan matanya sambil tersenyum. Genggamannya kurasakan semakin kuat. Matanya masih terpejam dan bibirnya masih tersenyum. Sesaat kemudian aku menyadari tangan Bunda tak bergerak. Dan setelah kulihat badannya tidak bergerak naik turun, aku terkesiap.

“Bunda.” Aku mencoba memanggilnya. Sama sekali tidak ada reaksi.

“Bundaaaaa….!” Aku mengguncang tubuhnya.

Aku terus memanggilnya, walaupun aku tahu Bunda sudah pergi.

Aku memanggil Mas Anton sambil berteriak berkali-kali. Dia tidak muncul juga.

Setengah jam berlalu Mas Anton belum juga dating.

Setelah perawat mengurus jenazah bunda, Mas Anton baru datang.

Dia menangis dan memanggil-manggil Bunda. Tangisku pun semakin menjadi dan kami berpelukan. Sebenarnya aku ingin marah. Berkali-kali aku bilang kalau pergi keluar jangan terlalu lama.

Minggu, 28 Mei 2006, Siang.

Dengan memakai bolero biru dari Bunda, aku mengantar Bunda ke peristirahatan terakhirnya. Bolero ini meninggalkan kenangan yang menyakitkan untukku. Aku tidak akan mencucinya, aku akan menyimpannya sebagai salah satu kenangan dari Bunda. Bolero ini menyisakan noda dari luka Bunda. Tapi kuharap luka hati Bunda pada Mas Anton yang ditahannya sekian tahun telah sembuh. Aku gagal memperbaiki hubungan mereka.

Selasa, 30 Mei 2006 Pagi

Aku telah tiba di Jakarta. Kutinggalkan Yogya yang porak poranda. Kutingalkan semua kenangan buruk itu. Tetapi, tetap saja hati dan pikiranku tidak bisa lepas dari Bunda. Aku selau memikirkannya. Akulah yang bersalah. Seandainya aku tidak menunda perjalanan kami. Mungkin saat ini kami masih bisa saling bicara dan bercanda….

Tuesday, December 19, 2006

galeri puisi

Umiku Sayang

Leni Ariani

Diam, tenang…

Tersungging di bibirmu senyuman manis

Cantik..cantik sekali

Secantik hatimu


Umi…


Bukalah matamu

Lihatlah diriku

Aku tersenyum untukmu

Manis bukan senyumanku?


Kekasihku..


Mengapa lidahku kelu?

Aku tak dapat mengucapkan asma-Mu yang agung

Mengapa Kau tegur aku dengan cara seperti ini

Apakah tak ada cara lain untuk menegur didiku atas kalalaianku?

Tidak untuk orang yang kucintai


Tetapi….


Trguran-Mu membuahkan kerinduan

Saat Kau belai aku dengan sayang-Mu

Saat Kau dekap aku dengan cinta-Mu

Semuanya begitu indah…


Kekasihku…


Aku titipkan Umi

Dalam sujud panjangku…

Dari Ceuceu untuk Umi

Monday, December 18, 2006

galeri puisi

Perempuanku

Matt

Perempuanku….

Lelaki ini padam mata nyala

Gamang jalan terang

Resah senja kala

Namun angan garang meradang

Perempuanku….

Lelaki ini luluh lantak

Serapah menyakiti kulit ari

Mimpi retak terpetak-petak

Tiggal hati kuberi sebagai janji

Perempuanku….

Kesima ampura

Ini lelaki

Mengharapmu sebagai istri

Bandung, 9 April 2005